Darilaut – Lebih dari 1.500 bangunan, termasuk rumah dan fasilitas publik lainnya, mengalami kerusakan akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pagi. Hingga Minggu (16/8) lebih 5.000 warga bertahan di pengungsian.
Sebanyak 1.357 rumah rusak berat, sedang dan ringan. Begitu pula dengan 167 fasilitas publik seperti sekolah dan perkantoran.
Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Kerusakan parah pada bangunan juga menimpa 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah.
Berdasarkan pemutakhiran data per Minggu (16/8) pagi, konsentrasi pengungsi terbesar di NTT saat ini di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa. Mereka tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan mandiri 2.000 jiwa di 10 titik pengungsian.
Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai total 2.078 jiwa. Pengungsi lainnya juga dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, dan dua wilayah di provinsi berbeda, yaitu Bima, hingga Kepulauan Selayar.
Pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian kini menjadi salah satu prioritas penanganan darurat. Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai, sangat membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih (tandon), hingga genset.



