“Ini kondisi guanya, kami sudah membuat model 3D. Dan memang di Metanduno itu didominasi oleh gambar-gambar penutur Austronesia,” ujarnya.
Berbeda dengan situs seni cadas tertua yang umumnya berupa cap tangan prasejarah, Metanduno justru memperlihatkan fase budaya yang lebih muda, ketika manusia telah mengenal pelayaran, domestikasi, dan perburuan terorganisasi.
Tradisi Maririm
Dalam panel Metanduno, Adhi menunjukkan adanya figur hewan berukuran besar yang menyerupai kuda atau sapi, disertai gambar-gambar perahu sebagai bukti kuat tradisi maritim masyarakat di masa lalu.
Salah satu yang paling besar terlihat seperti gambar kuda atau sapi besar. Lalu ada ”gambar perahu, ini bukti-bukti maritim,” kata Adhi. Ada juga domestikasi dan adegan perburuan.
Tidak hanya hewan, figur manusia juga mendominasi panel. Kebanyakan ada figur manusia dan panel penanggalannya berada di bagian kanan, di langit-langit gua, kata Adhi.
Beberapa gambar kini tertutup lapisan mineral (koraloid) dan warna coklat, namun narasinya masih dapat dikenali.
“Ada gambar seperti ayam, ada orang naik kuda mungkin sambil memegang parang. Ada juga figur warna hitam di sana,” ujarnya.
Menurut Adhi, gambar cadas di Metanduno memperlihatkan bahwa seni prasejarah bukan sekadar ekspresi visual, tetapi juga arsip sosial yang merekam cara manusia berinteraksi dengan alam, hewan, teknologi, dan sesamanya.




