“Di sini kita tidak hanya melihat cap tangan, tetapi cerita tentang pelayaran, perburuan, domestikasi, dan kehidupan manusia modern di Nusantara,” kata Adhi.
Dengan demikian, temuan gambar cadas di Leang Metanduno memperkuat posisi Indonesia bukan hanya sebagai lokasi seni tertua dunia, tetapi juga sebagai ruang penting narasi panjang peradaban manusia di Asia–Pasifik.
Jari Sempit
Peneliti Prof. Maxime Aubert menjelaskan bahwa temuan gambar stensil cap tangan yang berusia 67.800 tahun ini tidak hanya penting karena umurnya, tetapi juga karena gaya visualnya yang unik.
Menurut Prof. Maxime seni cadas tertua di dunia ini bukan sekadar cetakan tangan biasa.
“Ini adalah jenis stensil yang hanya ditemukan di Sulawesi. Kami menyebutnya stensil jari sempit,” ujarnya.
Ciri khasnya, jari-jari tampak runcing dan memanjang. Cara pembuatannya pun masih menjadi teka-teki.
“Kami tidak tahu apakah mereka memodifikasi bentuk tangan, atau menggerakkan jari saat meniup pigmen. Tapi ini menunjukkan pemikiran yang lebih maju,” kata Prof. Maxime.
Prof. Maxime mengatakan motif tersebut mengindikasikan bahwa manusia purba tidak sekadar menempelkan tangan, tetapi secara sadar memodifikasi bentuk visualnya.
Bahkan, Prof. Maxime menduga bentuk itu mungkin terinspirasi dari cakar hewan. “Kami menduga mungkin ada hubungannya dengan cakar hewan, tapi maknanya belum bisa dipastikan,” ujarnya.




