Bagi mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya, ruang riset tersebut sangat luas. Bahasa, sastra, seni, budaya, dan pariwisata menyimpan berbagai fenomena yang dapat dikaji dari perspektif lokal hingga global.
Dengan demikian, ”mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat berkembang menjadi produsen pengetahuan,” ujarnya.
Materi ini juga membawa mahasiswa pada satu pemikiran penting: kemajuan tidak dibangun sendirian.
Kolaborasi menjadi kata kunci dalam pengembangan sumber daya manusia. Kerja sama dengan sesama mahasiswa, dosen, perguruan tinggi lain, pemerintah, dunia industri, komunitas, hingga mitra internasional dapat membuka ruang belajar yang jauh lebih luas.
Kolaborasi nasional dan internasional juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat bahwa persoalan bahasa, budaya, seni, dan pariwisata tidak hanya menjadi isu lokal. Banyak di antaranya memiliki relevansi global.
Karena itu, mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya UNG perlu mulai membangun keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Tidak hanya mengenal kampus sendiri, tetapi juga mengenal dunia di luar kampus.
Mahasiswa baru Fakultas Sastra dan Budaya UNG perlu melihat empat tahun masa studi bukan sekadar perjalanan menuju ijazah. ”Masa tersebut merupakan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi,” kata Zulkifli, dengan memperluas pengalaman, membangun jejaring, menghasilkan karya, melakukan penelitian, dan mempersiapkan diri menjadi lulusan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.




