Belum lagi, selama kurang lebih enam jam di tengah laut nelayan hanya akan pulang membawa hasil tangkapan 3 – 5 kilogram saja. Tentu saja ini tidak sebanding dengan biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan oleh nelayan.
SMAF-DT memanfaatkan gelombang bunyi dan sensor ultrasonik untuk mendeteksi pergerakan ikan di laut. Kemudian dilengkapi dengan lampu alarm di atas perahu sebagai indikator.
Ketika perahu mulai berjalan menuju laut, sensor mulai mendeteksi adanya pergerakan ikan yang ada di dalam air.
“Saat sensor tersebut mengenai ikan maka lampu indikator akan menyala,” kata Rafly, seperti dikutip dari Its.ac.id.
SMAF-DT ini mampu mendeteksi area dengan banyak ikan, sehingga nelayan bisa menebar jaring di area tersebut dan mendapatkan hasil yang maksimal.
SMAF-DT juga dilengkapi dengan teknologi pelacakan posisi melalui GPS sehingga dapat memantaupergerakan kapal dan merekam posisi riwayat penangkapan sebelumnya.
Alat yang dapat disambungkan ke smartphone ini bisa digunakan oleh orang di rumah agar memantau posisi perahu di mana secara langsung melalui aplikasi SMAF-DT.
Selain itu, aplikasi SMAF-DT juga dilengkapi dengan main menu Tentang Ikan. Fitur ini berguna untuk menambah pengetahuan para nelayan mengenai jenis-jenis ikan beserta kandungannya.





Komentar tentang post