Darilaut – Pemerintah Indonesia bersama Malaysia, Singapura dan Jepang membahas keselamatan pelayaran di Selat Malaka dan Selat Singapura.
Pembahasan ini dilakukan melalui pertemuan 3rd Extraordinary Session of Implementation Committee Meeting on the Joint Hydrographic Survey of the Straits of Malacca and Singapore yang berlangsung selama dua hari, Rabu (26/4) hingga Kamis (27/4) di Singapura.
Kegiatan yang diselenggarakan Malacca Straits Council (MSC) hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia, Malaysia, Singapura, Jepang, dan MSC, di bawah mekanisme Pasal 43 UNCLOS.
Kegiatan yang diinisiasi pada Pertemuan TTEG ke-39 di Langkawi, Malaysia pada tahun 2014 lalu ini dibagi dua tahap.
Tahap pertama, pelaksanaan survei hidrografi di lima area kritis di Selat Malaka dan Selat Singapura dan telah berhasil dilaksanakan pada tahun 2015.
Sementara tahap kedua dilaksanakan untuk melakukan survei hidrografi di sepanjang Skema Pemisahan Lalu Lintas di Laut (TSS) yang memiliki kedalaman kurang dari 30 meter.
Survei dilaksanakan 2017 hingga 2020, yang kemudian diperpanjang hingga tahun 2023 karena pandemi Covid-19.
Delegasi Indonesia terdiri dari perwakilan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan Pushidrosal dipimpin oleh Kasubdit Perambuan dan Perbengkelan Direktorat Kenavigasian, Yudhonur Setyaji P.





Komentar tentang post