Menjawab beberapa permasalahan yang timbul dari penyelenggraan angkutan perintis dan tol laut, seperti belum disinggahinya beberapa wilayah oleh kapal perintis seperti di Kabupaten Tidore, Wisnu mengatakan, agar pemerintah daerah setempat dapat segera menyampaikan laporan dan usulan kepada pemerintah pusat untuk segera dicarikan solusi apakah itu melalui penambahan kapal atau deviasi trayek kapal yang sudah ada.
Terkait kurangnya kapal cadangan ketika ada yang docking, diharapkan operator kapal perintis dan tol laut dapat mengatur operasional kapal secara baik. Sehingga tidak sampai terjadi kekosongan atau berhentinya pelayanan kepada masyarakat di daerah tertentu yang sangat membutuhkan layanan kapal perintis maupun kapal tol laut.
Begitu juga dengan masalah angkutan barang balik, dimbau agar pemerintah daerah dapat lebih mendorong para pengusaha untuk meningkatkan hasil industri atau kerajian dari masyarakat lokal untuk bisa diangkut ke luar daerah tersebut.
Menurut Wisnu, saat ini muatan balik tersebut sudah meningkat dari segi jumlah dan keragamannya. Sebagai contoh, tol laut sudah dapat mengangkut muatan balik garam dari Pulau Sabu dan muatan balik ikan dari daerah Natuna, Tahuna dan Morotai. Namun harus diakui bahwa perubahan sistem ini juga membawa dampak pada perubahan lintas, jarak dan waktu pelayanan.





Komentar tentang post