Perubahan tersebut ditujukan untuk tetap dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang lebih baik dengan jumlah daerah yang dilayani lebih luas ditengah keterbatasan subsidi tol laut untuk tahun 2019.
Selain meningkatkan pelayanan, kata Wisnu, pemerintah terus melakukan langkah-langkah efisiensi biaya subsidi dengan menyelenggarakan trayek tol laut menggunakan pola hub dan spoke. Hal ini mengingat kapal feeder 1.500 DWT Kendhaga Nusantara sebagian besar telah selesai dibangun sehingga pertimbangan pemerintah tidak hanya biaya logistik saja tetapi juga perluasan daerah yang dilayani seiring dengan perkembangan tol laut.
Wisnu mengatakan, perubahan sistem tersebut menjadikan wilayah pelayanan tol laut di 3TP (Tertinggal, Terpencil, Terluar dan Perbatasan) yang pada 2016 hanya singgah di 31 pelabuhan, tahun 2019 menjadi 76 pelabuhan. Volume muatan Tol Laut juga mengalami peningkatan.
Volume muatan pada tahun 2016 sebesar 81.404 ton, pada 2018 meningkat menjadi 239.875 ton.
Menurut Wisnu, pemerintah secara proaktif dan responsif akan memprioritaskan pemanfaatan subsidi tol laut. Masyarakat pada daerah 3TP masih sangat membutuhkan tol laut dan mengevaluasi tol laut termasuk mengkaji kembali efektivitas pola subsidi freight pada biaya pelayaran serta mempertimbangkan pola subsidi lain yang lebih efektif dan efisien.





Komentar tentang post