Di luar persoalan kualitas jurnalistik, Kuek juga menyoroti dilema ketika konten media dimanfaatkan oleh platform digital dan layanan AI. Di satu sisi, media ingin informasi serta perspektif lokal tetap tersedia bagi masyarakat.
Di sisi lain, penyajian informasi melalui pihak ketiga berpotensi membuat audiens tidak lagi mengunjungi situs berita asli, sehingga mengurangi peluang media memperoleh pendapatan dari kunjungan tersebut.
“Bagi kami, ini adalah sebuah dilema. Di satu sisi, jika kami memberikan informasi tersebut, kami justru melemahkan posisi kami sendiri karena orang tidak lagi perlu mengunjungi kami untuk mendapatkan berita dan informasi,” ujar Kuek.
”Namun, kami adalah negara kecil. Jika kami tidak memberitakan peristiwa di negara kami sendiri dan tidak menafsirkan peristiwa yang terjadi, ke mana masyarakat akan mencari informasi?”
Transparansi dan Royalti
Ketimpangan tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan persoalan transparansi dan royalti yang disoroti Ketua Myanmar Press Council, Dr. Tin Tun Oo.
Ia menjelaskan bahwa artikel dan foto jurnalistik dari media Myanmar dapat dikumpulkan melalui proses crawling dan scraping untuk keperluan pelatihan AI tanpa izin. Pada saat yang sama, media menghadapi keterbatasan untuk mengetahui apakah karya mereka telah digunakan dan bagaimana pemanfaatannya menghasilkan nilai ekonomi.




