Dahlan mengutip laporan WAN-IFRA yang menunjukkan 75 persen penerbit yang disurvei melaporkan peningkatan efisiensi melalui AI, sementara hanya 9 persen melaporkan peningkatan pendapatan langsung. Angka ini memperlihatkan bahwa kemampuan menghasilkan konten secara lebih cepat belum tentu menyelesaikan persoalan bisnis media.
Tantangan bagi media bukanlah ketiadaan audiens atau nilai. Persoalannya adalah siapa yang menguasai audiens tersebut, dan siapa yang memperoleh nilai ekonominya, kata Dahlan.
Hati-Hati Menggunakan AI
Persoalan mengenai siapa yang menguasai audiens dan memperoleh nilai ekonomi tersebut juga muncul dalam pengalaman Singapura. Deputy CEO SPH Media, Kuek Yu Chuang, menjelaskan bahwa AI telah membantu pekerjaan jurnalistik, mulai dari mentranskripsikan pembicaraan panjang hingga merangkum informasi dan mengidentifikasi data penting. Namun, media tetap perlu menjaga kepercayaan publik dan mempertahankan nilai jurnalistik yang tidak mudah digantikan teknologi.
“Kepercayaan sulit diperoleh dan mudah terkikis,” kata Kuek.
Menurut Kuek, media harus berhati-hati dalam menggunakan AI, terutama untuk menghasilkan gambar atau video hiperrealistis yang dapat mengaburkan batas antara peristiwa nyata dan konten sintetis.
Kuek menekankan pentingnya jurnalisme investigasi, cerita yang berangkat dari pengalaman manusia, serta pemahaman terhadap konteks lokal sebagai kekuatan media dalam mempertahankan kepercayaan audiens.




