Di Torosiaje, jenis lamun ini tumbuh di substrat berpasir atau dekat karang (koral) dan berlumpur.
Lamun jenis ini tersebar di hamparan perairan Torosiaje sekitar 8 hektar, ”sedangkan dua jenis lamun lainnya diperkirakan 5 hektar,” kata Umar.

Dosen Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hamdani, mencatat bahwa salah satu hal menarik dari pengalaman dan pengamatan Orang Torosiaje terhadap lingkungannya adalah kesadaran bahwa alam memberi pertanda yang berguna untuk kepentingan hidupnya. Selain langit, angin, arus dan pasang surut air laut, Bajo Torosiaje memiliki kearifan lokal menandai pergantian bulan kamariah melalui kemunculan bunga Padang Lamun (seagrass) yang dikenal dengan istilah Sammo.
Dalam tulisan di Kemenag.go.id dan Islami.co, Hamdani menguraikan bunga Sammo yang biasa muncul dan tertiup angin mudah sekali dilihat keberadaannya. Pada saat-saat tertentu, bunga ini seperti busa putih yang mengapung dalam jumlah yang cukup banyak. Segera setelah kemunculannya, orang-orang tua berseru: “Besok puasa”, atau “besok lebaran”, karena menjadi penanda bulan baru.
Kearifan lokal ini, tulis Hamdani, dahulu tentu menjadi satu-satunya cara bagi masyarakat yang mendedikasikan dirinya pada kehidupan laut. Bagi Orang Torosiaje, saat ini fenomena alam tersebut hanya menjadi penguat saja atas pengumuman hasil sidang isbat yang rutin disampaikan oleh pemerintah (Ulil Amri).




