Kearifan lokal awal bulan kamariah di Torosiaje tersebut sudah berlangsung lama. Mekarnya bunga padang lamun sebagai penanda akhir Ramadan dan awal Syawal di Torosiaje lahir karena kondisi alam, yang hingga kini masih terus dipertahankan.
Apalagi kondisi orang Torosiaje yang sebagian hidup melaut, mencari ikan, yang seringkali lokasinya jauh atau tidak terjangkau sistem komunikasi seperti telepon seluler dan sarana informasi lainnya termasuk jaringan internet.
Di masa lalu, leluhur orang Torosiaje ”tidak menunggu pengumuman,” kata Umar Pasandre, motivator dan pendamping dalam penanaman mangrove yang telah memperoleh sejumlah penghargaan lingkungan.
Praktik ini kata Umar, ”sudah turun-temurun.” (Verrianto Madjowa)




