Itu sebabnya, kemunculan pertama bunga sammo saat senja atau hari mulai malam ini sangat dinantikan di Torosiaje. ”Tidak menunggu isbat,” kata Umar.
Pengamatan empiris orang Torosiaje yang pemukimannya berada di atas permukaan laut tersebut tidak hanya muncul begitu saja.
Orang-orang Torosiaje di masa lalu tidak hanya bergantung pada hilal atau bulan sabit.
Hal ini lantaran kondisi alam atau cuaca. Meskipun berada di laut, bukan berarti hilal akan selalu terlihat. Bulan sabit ini tak dapat diamati apabila mendung atau turun hujan.
Kemunculan bunga sammo inilah sebagai penanda awal Ramadan memasuki bulan puasa dan akhir Ramadan memasuki 1 Syawal atau lebaran.
”Kalau sudah mekar bunga sammo, itu malam pertama,” kata Umar, akan tetapi ”mekarnya buah lamun di malam pertama tidak banyak.”
Tidak semua jenis lamun sebagai penanda bulan kamariah.
Umar telah mengidentifikasi tiga jenis lamun yang tumbuh di perairan Torosiaje.
Tumbuhan lamun yang menjadi penanda dan berbunga rutin tersebut memiliki panjang daun 0,5 hingga 1,5 meter dan lebar 1 sampai 2 cm.
“Panjang daun tergantung kedalaman perairan,” kata Umar.
Tumbuhan yang memiliki panjang daun lebih dari satu meter dan lebar 2 cm tersebut merujuk pada spesies lamun Enhalus acoroides.
Enhalus mudah dikenali karena memiliki daun yang panjang dan warna hijau gelap.




