Pengurangan tersebut sesuai dengan perhitungan model Huba dan Drob yang dipublikasikan sebelum gerhana.
Menurut Rezy, terdapat penundaan 20 hingga 30 menit setelah pengaburan maksimum hingga TEC dan ionosonde mencapai nilai minimumnya. Namun tidak ada penundaan waktu yang nyata untuk ionosonde minimum.
Meski demikian, terlihat hasil yang berbeda pada peristiwa analisis gerhana matahari total yang terjadi di Asia Tenggara-Pasifik.
Rezy mengatakan dampak utama yang menonjol yaitu pada peningkatan lapisan F ionosfer dengan kecepatan ke atas sebesar 21 hingga 40 meter per detik, lalu penurunan sebesar 40 persen yang diikuti dengan pemulihan cepat ionosonde di Biak.
Selain itu, penekanan yang berkepanjangan ionosonde di atas Guam sebesar 30 persen di bawah tingkat normal selama beberapa jam. Sehingga, ini menambah pengetahuan terhadap dampak dari gerhana matahari.
Gerhana matahari memberikan peluang untuk membandingkan efek cahaya dan korpuskular, karena perbedaan kecepatan jenis radiasi ini akan menghasilkan pemisahan waktu dari dua gerhana di permukaan Bumi.
Melalui topik bahasan tentang “Solar Eclipse Events: Hidden Treasure for Space Scientists”, Rezy berpesan bahwa penelitian terhadap peristiwa gerhana matahari agar terus dilakukan. Selain memberikan pemahaman yang lebih baik, hal ini juga dapat membuka peluang kolaborasi riset.




