Darilaut – Luas lahan sangat kritis di Provinsi Gorontalo melonjak hampir empat kali lipat dari 65.414 hektare pada tahun 2004 menjadi 259.483 hektare tahun 2020.
Hal ini dikatakan Prof. Dr. Fitryane Lihawa yang membawakan orasi ilmiah dengan judul ”Dari Lahan Kritis ke Harapan Baru: Menggugah Peran Sosial-Ekonomi Masyarakat dalam Pemulihan Daerah Aliran Sungai” dalam sidang senat terbuka pengukuhan guru besar Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang digelar di gedung auditorium UNG, pada Selasa (24/6).
Kondisi selama 16 tahun tersebut terjadi di seluruh kawasan DAS di Gorontalo, termasuk bagian hulu Danau Limboto.
”Peningkatan ini menunjukkan kerusakan masif akibat alih fungsi hutan dan aktivitas pertanian di lereng curam,” ujar Prof. Fitryane yang juga Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNG.
Sebaran tertinggi lahan sangat kritis, menurut Prof. Fitryane, berada di Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Boalemo, dan Kabupaten Gorontalo .
”Ini terjadi akibat tekanan pemanfaatan lahan, deforestasi, dan minimnya praktik konservasi,” ujarnya.
Prof. Fitryane mengatakan walaupun wilayahnya relatif kecil, namun tekanan urbanisasi yang tinggi menyebabkan perubahan tutupan lahan menjadi lahan terbangun. Sebagian wilayah di wilayah pinggiran kota berbatasan dengan perbukitan ikut terdampak proses degradasi lahan.




