Darto menambahkan ketika ditemukan adanya nelayan yang melanggar seperti penggunaan bahan peledak, atau mencari gurita di dalam kawasan yang ditutup, dan pelanggaran lainya harus selalu dilaporkan. Laporan tersebut disampaikan kepada ketua kelompok dan fasilitator Japesda.
“Kalau ada pelanggaran begitu harusnya ada bukti foto, tapi karena keterbatasan tidak ada HP untuk ambil foto, jadi kami hanya membuat menyampaikan apa yang kami lihat secara lisan saja,” ujarnya.
Sementara itu, ketua kelompok Kogito sekaligus ketua pokmaswas, Sardin Matorang mengungkapkan, selalu melaporkan setiap kejadian yang dijumpai oleh kelompok nelayan Kogito.
“Kalau ada laporan soal bom ikan, saya selalu update ke grup Pokmaswas se-Sulawesi Tengah. Karena kewenangan kami hanya sebatas patroli dan tidak bisa melakukan penindakan, jadi hanya laporan saja yang saya teruskan, harapan hal ini bisa ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berwajib,” kata Sardin.
Pendapatan Nelayan
Pendapatan nelayan tradisional seperti Iwan Kusani bersifat tidak pasti. Berbeda dengan petani atau pedagang yang keuntungannya bisa diprediksi. Cuaca menjadi salah satu faktor penentu dari hasil tangkapan saat melaut.
“Di sini ada tiga musim. Musim angin barat, angin timur, dan pancaroba. Angin barat ini yang tidak bisa diprediksi dan ganas gelombang tinggi. Sangat beresiko jika melaut di musim angin barat, begitu juga pancaroba, dan angin timur. Kadang satu hari ada hasil, kadang tidak ada. Kalau musim angin kencang, dan ombak saya tidak melaut,” kata Iwan.




