Mengatasi Polusi Fosfor

Ganggang laut, Sargassum. FOTO: MUSEUM FLORIDA (floridamuseum.ufl.edu)

Darilaut – Fosfor dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya. Akan tetapi, fosfor sebagai bahan utama pupuk telah menimbulkan masalah lingkungan yang serius.

Salah satunya, fosfor yang lepas dan masuk ke perairan darat hingga ke laut telah memicu pertumbuhan sargassum dalam jumlah banyak.

Pelepasan fosfor dan zat kimia lain yang berlebihan yang dikenal sebagai nutrisi tersebut menjadi wabah di laut.

Secara global, hilangnya fosfor dari daratan ke perairan telah meningkat dua kali lipat dalam satu abad terakhir dan terus meningkat.

Meskipun ada upaya besar-besaran untuk mengurangi polusi nutrisi, Kepala Cabang Kelautan dan Air Tawar Program Lingkungan PBB (UNEP), Leticia Carvalho, mengatakan, pelepasan fosfor telah melampaui kemampuan bumi untuk mengatasinya.

Sebanyak 80 persen mineral hilang atau terbuang saat digunakan. Selain dampak buruk terhadap lingkungan, hal ini juga merugikan petani, pemilik pabrik, dan pihak lain sebesar US$265 miliar per tahun.

“Kita sudah lama melewati garis merah polusi fosfor dan dampaknya terhadap bumi sangat buruk,” kata Carvalho.

Jika umat manusia terus melakukan hal ini, “kita berisiko membahayakan ekosistem yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia,” ujar Carvalho, seperti dikutip dari Unep.org.

Umat manusia tidak harus berhenti menggunakan fosfor. Hanya saja, kuncinya adalah penggunaan fosfor secara lebih berkelanjutan dan mencegah jumlah fosfor yang berlebihan merembes ke lingkungan.

Terdapat kesalahpahaman umum bahwa semakin banyak pupuk berbasis fosfor yang digunakan, maka hasil panen akan semakin meningkat. Hal ini belum tentu benar.

Kuncinya adalah menggunakan jumlah yang tepat, sehingga tanaman tetap tumbuh subur dan lingkungan tidak terlalu menderita.

Dengan demikian, manusia dapat menggunakan fosfor secara lebih berkelanjutan. Perubahan dalam praktik pertanian dapat membantu mengurangi polusi fosfor.

Sebagai contoh, penggunaan pupuk kandang, dapat mengurangi kebutuhan akan pupuk berbahan dasar fosfor.

Petani juga dapat menanam tanaman penutup tanah dan menghindari pengolahan tanah, yang akan meningkatkan kesehatan tanah dan mengurangi kebutuhan akan pupuk.

Praktik-praktik ini harus menjadi bagian dari peralihan yang lebih besar menuju pertanian regeneratif. Dengan pendekatan pertanian yang lebih ramah lingkungan, akan meningkatkan kesehatan tanah dan menjaga keanekaragaman hayati.

Selain itu, pupuk sintetis hanya boleh digunakan pada saat tanaman paling membutuhkan fosfor. Sektor peternakan juga harus mencari cara untuk memperoleh kembali fosfor dari pupuk kandang.

Untuk itu, negara-negara perlu melakukan upaya yang lebih baik dalam mengolah air limbah. Secara global, sekitar 80 persen dari seluruh air limbah dibuang tanpa pengolahan, sehingga membuang sekitar 3 juta ton fosfor ke lingkungan setiap tahunnya.

Diperkirakan antara 33 persen dan 96 persen di antaranya dapat dipulihkan.

Solusinya memerlukan inovasi —tidak hanya dalam bidang teknologi, namun juga dalam cara kerja. Hal ini memerlukan kerja sama di dalam dan lintas sektor yang mungkin tidak pernah bekerja sama secara tradisional.

Dalam laporan “Our Phosphorus Future” menyerukan pengurangan 50 persen polusi fosfor global, ditambah dengan peningkatan 50 persen dalam daur ulang fosfor yang hilang dalam residu dan air limbah pada tahun 2050.

Laporan tersebut, antara lain menjelaskan bahwa hal ini akan meningkatkan ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas air, dan manfaat lainnya.

Bagaimana UNEP mengatasi polusi fosfor? UNEP menjadi tuan rumah Kemitraan Global dalam Pengelolaan Gizi, yang diluncurkan pada tahun 2009. Kemitraan ini mempromosikan pengelolaan nutrisi yang efektif, khususnya nitrogen dan fosfor, untuk mencapai ketahanan pangan dan melindungi lingkungan.

Upaya UNEP untuk mengendalikan dampak fosfor terhadap lingkungan terjadi di tengah upaya global yang lebih luas untuk mengendalikan polusi, yang mendapat dorongan pada tahun lalu melalui Kerangka Kerja Global tentang Bahan Kimia (Global Framework on Chemicals).

Kerangka kerja ini menetapkan peta jalan untuk melindungi manusia dan bumi dari bahan kimia dan limbah berbahaya.

UNEP akan mengelola dana perwalian yang akan membantu melaksanakan perjanjian tersebut.

Sebagai otoritas global terkemuka di bidang lingkungan hidup, UNEP juga membantu negara-negara menerapkan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, termasuk Target 7, yang membahas fosfor.

Kerangka kerja ini menyerukan pengurangan 50 persen kelebihan nutrisi yang hilang ke lingkungan pada tahun 2030 dan mengurangi risiko pestisida setidaknya setengahnya.

Sesi keenam Majelis Lingkungan Hidup PBB, UNEA-6, akan diselenggarakan pada tanggal 26 Februari hingga 1 Maret 2024 di kantor pusat UNEP di Nairobi, Kenya. Kegiatan ini dengan tema: Aksi multilateral yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan untuk mengatasi perubahan iklim, keanekaragaman hayati kerugian dan polusi.”

Exit mobile version