Membatasi pelampauan target 1,5°C bukan berarti akan terhindar dari dampak negatif perubahan iklim—yang bisa mencakup berbagai hal, mulai dari kekeringan dan banjir hingga badai dahsyat yang lebih sering terjadi.
Akan tetapi, langkah ini akan membantu meminimalkan dampak tersebut. Selain itu, setiap tahun tambahan pemanasan di atas 1,5°C meningkatkan risiko terjadinya perubahan parah yang tidak dapat dipulihkan, dengan konsekuensi katastrofik bagi umat manusia. Perubahan ini mencakup kondisi lapisan es, karbon dalam lapisan tanah beku (permafrost), sirkulasi laut, dan terumbu karang.
Di tengah lonjakan suhu dekade ini, laporan terbaru tersebut mengurai berbagai opsi bagi umat manusia untuk mengendalikan perubahan iklim.
Laporan ini meninjau skenario pelampauan 1,5°C yang “serendah mungkin”. Dalam skenario ini, umat manusia membatasi puncak pemanasan di angka 1,7–1,8°C sekitar pertengahan abad ini, kemudian menurunkan kembali suhu tersebut hingga mencapai atau berada di bawah 1,5°C.
Hal ini menuntut pengurangan emisi yang berkelanjutan serta upaya penyingkiran karbon dioksida.
Mencapai tujuan agar suhu kembali ke angka 1,5°C pada akhir abad ini tentu tidaklah mudah. Hal ini berarti pengurangan emisi gas rumah kaca harus dilakukan secara langsung dan agresif, yakni sebesar 18 persen pada tahun 2030, 45 persen pada tahun 2035, dan 69 persen pada tahun 2040.



