Darilaut – Hasil penelitian mencatat bahwa pertumbuhan Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda tidak berlangsung secara simetris. Gunung ini berdiri di tepi kaldera bawah laut dengan tingkat kemiringan yang berbeda pada setiap sisinya.
Sektor barat daya berkembang di atas lereng kaldera yang lebih curam, sementara bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang relatif lebih dangkal. Perbedaan kondisi dasar tersebut menyebabkan kedua sektor mempunyai karakter kestabilan yang berbeda.
Tubuh Anak Krakatau juga tersusun dari material dengan sifat fisik berbeda. Pada fase awal pertumbuhan, interaksi magma dengan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif ringan dan berpori.
Setelah sekitar 1960, ketika aktivitas lebih didominasi erupsi Strombolian – Vulcanian, lava yang lebih padat mulai menumpuk di atas endapan tuf tersebut.
Penumpukan lava yang lebih berat di atas material yang lebih ringan, ditambah posisi sektor barat daya di atas lereng kaldera yang curam, secara bertahap meningkatkan beban tubuh gunung dan berkaitan dengan ketidakstabilan lereng. Kondisi inilah yang menjadi bagian penting dalam memahami evolusi morfologi Anak Krakatau.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, Senin (21/9) mengatakan bahwa perjalanan Anak Krakatau menunjukkan bahwa memahami gunung api tidak cukup hanya dengan melihat satu kejadian erupsi. Perubahan sistem magma, material penyusun, bentuk tubuh gunung, gaya erupsi, hingga kondisi lingkungan saling berkaitan dan dapat berubah dari waktu ke waktu.




