Darilaut – Sejarah mencatat kedatangan bangsa Spanyol ke Indonesia pada abad ke-16 di Kepulauan Maluku.
Namun, belum banyak tahu keterkaitan Spanyol di Maluku tersebut terkoneksi dengan Meksiko dan Filipina.
Sejarawan Amerika Latin di Departemen Sejarah Universitas Colorado Denver, Amerika, Ryan Crewe, menguak dan menelusuri jalur rempah-rempah di masa lalu tersebut.
Dalam 10 tahun terakhir, Ryan melakukan penelitian, di antaranya, ditemukannya beberapa dokumen berbahasa Meksiko yang berhubungan dengan sejarah di Indonesia pada abad 16 terutama Ternate dan Tidore.
Bukunya “The Mexican History” berhasil mendapatkan penghargaan prestisius atas kontribusinya di bidang sejarah kolonialisme Amerika Latin.
“Kami lakukan untuk menelusuri jejak jalur rempah yang menjadi pemicu perang di kancah global, antara bangsa Amerika, Eropa, dan Asia,” ujar Ryan dalam forum Berbagi Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN “Benih Perselisihan: Perang Rempah dalam Sejarah Global”, pada Senin (28/7).
Penelitian ini berfokus pada dimensi trans-pasifik dari perang rempah yang menjadi bagian penting dari sejarah dunia, kata Ryan.
”Berawal dari kolonialisasi Spanyol di Meksiko yang sangat kaya pada masa itu menjadikan Meksiko sebagai pusat dari jaringan imperialisme Spanyol,” ujarnya.
Dengan keberhasilan tersebut, kata Ryan, Spanyol melebarkan kekuasaannya ke Filipina dan berlanjut dengan upaya pendudukan di Maluku yang merupakan penghasil rempah utama di Indonesia.
Koneksi yang terbangun dua ratus tahun lalu antara Indonesia, Filipina dan Meksiko merupakan kunci dari jalur perdagangan rempah yang beredar di pasar global Eropa.
Ryan mengatakan penelitian saat ini berfokus pada kajian sejarah terkait rempah di Indonesia bagian timur, bagaimana kekuatan Eropa masuk dan memantik konflik di tingkat lokal antar kerajaan di Ternate dan Tidore.
”Penelitian ini juga bertujuan untuk menelusuri lebih detail perbedaan implementasi semboyan bangsa Eropa yaitu gold, glory dan gospel di masa pendudukan Spanyol dan Belanda,” kata Ryan.
Indonesia, sejak beberapa abad lalu tersohor sebagai gudangnya rempah-rempah dunia. Begitu berharganya rempah-rempah pada masa tersebut, sehingga menjadi daya tarik utama bangsa asing mengarungi samudera. Mereka ingin mendapatkan rempah-rempah langsung dari sumbernya.
Menurut Ryan, perang rempah merujuk pada serangkaian konflik antara bangsa Eropa yakni Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris untuk memonopoli perdagangan rempah dunia.
Spanyol bertujuan untuk kepentingan dagang semata, sedangkan Hindia Belanda ingin menguasai sepenuhnya dari aspek ekonomi, kemasyarakatan hingga sektor pemerintahan, kata Ryan.
Dalam penelitian tahap selanjutnya, Ryan akan melakukan site visit ke beberapa daerah yakni Ternate, Tidore, Makassar, dan Ambon untuk mengumpulkan kepingan riwayat sejarah dari kisah masyarakat lokal.
Peneliti Kelompok Riset Warisan Budaya PRMB BRIN, Dedi Adhuri, membahas riset yang berfokus pada isu-isu maritim kontemporer.
Dedi menyarankan suatu pendekatan dalam penelitian yaitu sejarah lisan dan tradisi lisan layak digunakan dalam penelitiannya.
“Selain kajian rempah, sebaiknya juga melibatkan komunitas yang menghubungkan jalur maritim di Maluku. Selain itu juga mengangkat tentang komoditas lokal di sana yakni teripang,” kata Dedi.
Berbeda dengan rempah yang berdimensi sangat politis, yang selalu memicu terjadinya konflik dan peperangan, komoditas teripang tidak bersentuhan dengan konteks politik.
Secara harmonis menghubungkan masyarakat Maluku dengan dunia luar, seperti Australia dan Cina.
Perang rempah merupakan suatu periode “kelam” Indonesia, di mana kekayaan alam Nusantara yang berlimpah.
Hal ini menjadi daya tarik yang memicu konflik global yang berujung pada penjajahan selama berabad-abad.
Dengan diadakannya forum budaya ini, diharapkan dapat menjadi landasan untuk menggali potensi kolaborasi lebih lanjut dalam riset jalur rempah dan warisan budaya Indonesia, ujar Ryan.
