Darilaut – Penelitian dan pengungkapan senyawa aktif yang diperoleh dari perairan laut Indonesia diarahkan untuk menemukan senyawa aktif dari biota laut. Senyawa aktif tersebut dapat dimanfaatkan untuk obat terapi antikanker dan bahan baku kosmetika yang memiliki aktivitas sebagai anti-aging.
Hal ini yang menjadi dua program utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Secara teknis kegiatan riset ini dilakukan Pusat Riset Obat dan Vaksin, Organisasi Riset Kesehatan BRIN.
Belum lama ini Pusat Riset Obat dan Vaksin mengadakan webinar Scientific Talks bertajuk Currents Trends Marine Drugs Development. Webinar Scientific yang berlangsung pada Senin (29/8) itu menghadirkan dua narasumber dari Griffith Institute for Drug Discovery (GRIDD) Australia.
Selama ini, GRIDD telah berhasil dalam penemuan senyawa obat, yang telah diketahui memiliki aktivitas anti-resistensi mikroba dan penyakit Parkinson.
Kepala Pusat Riset Obat dan Vaksin BRIN, Masteria Yunovilsa Putra, mengatakan melalui webinar ini ingin mendapatkan semua informasi dari pengalaman yang telah dilakukan GRIDD untuk mengeksplorasi biodiversitas Indonesia, dalam rangka pengembangan produk obat alami dari laut Indonesia. Selain itu, ingin membuka peluang kolaborasi dengan semua universitas nasional dan internasional.
Peneliti Pusat Riset Obat dan Vaksin Asep Bayu mengatakan kerja sama internasional sangat diperlukan untuk mengeksplorasi dan mempercepat penemuan dan pengembangan obat alami laut. Apalagi kepulauan Indo-Australia merupakan pusat (hot spot) biodiversitas laut yang memiliki multivariasi ecoregion, serta senyawa alami dari laut memiliki potensi tinggi sebagai kandidat obat.
Kepulauan Indo-Australia adalah laboratorium alam yang unik dan menjadi rumah bagi hampir seperempat spesies di darat, yang mana sebagian besar merupakan spesies endemis. Contohnya seperti keanekaragaman hayati Wallacea.
Menurut Asep area ini juga merupakan hot spot bagi terumbu karang dunia (seperti coral triangle dan great barrier reef) dan keanekaragaman hayati laut.
Kepulauan Indo-Australia mendapatkan paparan ultraviolet yang kuat, perbedaan suhu tinggi, variasi kedalaman yang luas, dan ruang terbatas. Sehingga berpengaruh pada sistem pertahanan biokimia alami dari spesies.
Hal tersebut, kata Asep, berdampak pada pembentukan metabolit sekunder dengan struktur yang unik dan memiliki bioaktivitas spesifik. Kondisi ini juga dapat meningkatkan indeks probabilitas untuk penemuan senyawa anti-tumor baru.
“Biodiscovery ditentukan oleh adanya keragaman dalam taksonomi tingkat tinggi dan peluang ekologi untuk menguraikan potensi metabolik. Saat ini senyawa alami dari laut dapat ditemukan pada hewan invertebrata laut seperti Porifera, Cnidaria, Echinodermata, Chordata, dan Moluscca,” ujar Asep.
“Beberapa produk alami laut terbaru telah ditemukan pada sponge laut di Indonesia, seperti Manadoperoxide B sebagai antiprotozoa (T.b. rhodesiense), bitungolide yang memiliki efek sitotoksik dan berpotensi sebagai antitumor, serta papuamides, biaketide, lembehyne, barangamide, dan swinholide.”
Associate Professor dari GRIDD, Rohan Davis, mengatakan Australia menjadi salah satu dari 17 negara mega biodiversitas yang menjadi elemen penting bagi penemuan hayati. Penggunaan biota yang bersumber dari Australia untuk penemuan obat produk alami dan penelitian biologi kimia memiliki keuntungan strategis, karena sumber daya unik ini hanya dieksplorasi secara dangkal untuk agen farmasi baru.
Davis menggambarkan secara singkat tentang Nature Bank – platform biodiscovery berdasarkan ekstrak dan fraksi produk alami yang berasal dari tumbuhan, jamur, dan invertebrata laut Australia. Termasuk mendeskripsikan beberapa produk alam laut baru yang ditemukan tim Davis dan potensi dampaknya terhadap bidang penemuan hayati.
Associate Professor dari GRIDD, Yun Jiang Feng, mengatakan penyakit Parkinson hingga saat ini tidak dapat disembuhkan. Feng menjelaskan profiling sitologi adalah teknik multiparametric. Teknik ini menggunakan pendekatan skrining fenotipik berbasis citra.
Menurut Feng skrining fenotipik mengintegrasikan hasil pengamatan dari mikroskop fluoresensi otomatis dan analisis gambar. Skrinig bertujuan mengevaluasi efek dari molekul kecil pada beberapa komponen seluler.
“Kami telah membuat platform profiling sitologi menggunakan sel-sel yang diturunkan dari manusia, human olfactory neurosphere (hONS) yang diturunkan dari pasien Parkinson,” kata Feng.
“Melalui platform ini, beberapa produk alami telah diujikan dan memberikan hasil signifikan melalui mekanisme penghambatan fungsi seluler hONS, sehingga mekanisme aksi terhadap penyakit Parkinson juga dapat dianalisis.”
