Menilai Kesehatan Ekosistem Sungai Dengan Makrozoobentos

Untuk menilai kesehatan ekosistem sungai dengan indikator makrozoobentos. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Peneliti Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jojok Sudarso, mengatakan, penilaian kesehatan ekosistem sungai dengan indikator makrozoobentos mempunyai kelebihan dibandingkan ikan, perifiton, plankton dan bakteri.

Menurut Jojok, tingkat mobilitas yang rendah menyebabkan makrozoobentos mudah mencerminkan kondisi kualitas perairan setempat.

Selain itu, kata Jojok, jumlah yang berlimpah di alam dan distribusi yang luas membuat organisme tersebut mudah di-sampling.

“Indikator makrozoobentos penting digunakan untuk pemantauan kualitas ekosistem sungai karena merupakan komponen penting dalam rantai makanan,” ujar Jojok, dalam webinar nasional “Ecological Tools dalam Penilaian Kesehatan Perairan Darat” yang diselenggarakan Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Rabu (21/10).

Jojok mengatakan, bioindikator merupakan alat untuk mengetahui dampak dari perubahan lingkungan sebelum dampak yang lebih besar terjadi maupun evaluasi untuk keberhasilan program pengelolaan lingkungan.

“Pengembangan bioindikator perlu disesuaikan dengan kondisi ecoregion setempat dan perlu integrasi dengan pengukuran kimia, fisika, dalam pengendalian dan pencegahan kerusakan ekosistem akuatik,” kata Jojok.

Sumber daya perairan darat merupakan sumber daya penting bagi kehidupan manusia. Peningkatan pertumbuhan penduduk dan percepatan ekonomi berdampak pada perairan darat.

Pencemaran dan perubahan habitat di sekitar perairan mengakibatkan kerusakan ekosistem.

Menurut Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Barti Setiani Muntalif PhD, makrozoobentos merupakan organisme mikro-invertebrata (hewan invertebrata berukuran kecil) yang hidupnya melekat di dasar sungai, antara batuan dan dalam runtuhan bahan organik. Selain itu hidup di batang kayu, dan ekosistem dekat perairan sungai lainnya.

Dalam orasi ilmiah Forum Guru Besar ITB dengan judul “Pengembangan Bioindikator Sebagai Upaya Pengelolaan Kualitas Air Sungai”, akhir September 2019 di Aula Barat ITB, Barti mengatakan, proses dekomposisi ini berperan penting terutama dalam regenerasi unsur hara dan nutrien sehingga menunjang keberlangsungan ekosistem sungai.

Contoh makrozoobentos adalah Annelida (cacing cincin), Sulcospira sp. (siput air tawar) dan Rhyacophilia sp (sejenis kepik).

Organisme ini umumnya mempunyai kemampuan untuk menghancurkan material yang besar menjadi lebih kecil dan partikel tersebut akan menjadi substrat (medium) bakteri untuk berkembang biak.

Penggunaan makrozoobentos sebagai bioindikator ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu mampu merefleksikan kondisi lokal suatu ekosistem sungai. Kemudian, mempunyai siklus hidup yang relatif panjang (lebih dari 1 tahun), mudah di-sampling, tingkat sensitivitas yang beragam terhadap polutan, dan keberadaannya relatif melimpah.

Menurut Barti, terdapat tiga klasifikasi dalam makrozoobentos sebagai bioindikator.

Klasifikasi pertama, bioindikator untuk air tercemar ringan digunakan Sulcospira sp. dan Rhyacophilia sp. karena memiliki nilai toleransi yang rendah.

Klasifikasi kedua, bioindikator untuk air tercemar sedang digunakan Hydrospyche sp. karena nilai toleransi yang sedang.

Klasifikasi ketiga, bioindikator untuk air tercemar berat yang menggunakan Chironomus sp. dan Tubifex sp. karena nilai toleransi yang tinggi.

Exit mobile version