Selesai upacara, tangis anggota keluarga almarhum pun tak bisa ditahan. Tangisan itu terdengar ketika anggota keluarga almarhum sedang melakukan tabur bunga di atas makam Prof Azra yang berada di Blok Z nomor 426.
Prof Azra meninggal pada Ahad (18/9) di Rumah Sakit Serdang, Selangor, Malaysia. Saat itu satu-satunya pria Indonesia dan negara nonpersemakmuran yang mendapat gelar ‘sir’ dari Ratu Elizabeth (Inggris) itu hendak menghadiri seminar atas undangan Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) yang juga dihadiri mantan wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Anwar Ibrahim.
Dua puluh menit menjelang mendarat di Bandara Kuala Lumpur, Jumat (16/9), Prof Azra mengalami batuk berkepanjangan.
Menurut dokter rumah sakit tersebut, batuk itu muncul karena serangan jantung. Pria kelahiran 4 Maret 1955 di Padang Pariaman, Sumatera Barat, itu meninggalkan istri dan empat putra-putri.
Selamat jalan, Prof Azra. Meski hanya empat bulan Prof Azra memimpin Dewan Pers, pikiran serta ide-ide mulia dan kesederhanaannya akan selalu dikenang. Masyarakat pers tentu merasa sangat kehilangan.





Komentar tentang post