Menurut Siti, KLHK sangat menaruh perhatian akan kelestarian ekosistem mangrove. Suatu ekositem mangrove berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan pantai, pelindung erosi dan abrasi air laut dan penyangga dan pencegah intrusi air laut.
Selain itu, tempat berlindung/berkembangbiak berbagai jenis fauna dan biota laut, hingga sumber pendapatan masyarakat seperti pemanfaatan kayu dan non kayu serta ekowisata. Kelestarian ekosistem mangrove berperan penting sebagai mitigasi bencana.
Berdasarkan data KLHK, lebar tanaman mangrove ± 100 meter dengan ketinggian akar ± 30 cm sampai 1 m mampu mereduksi besarnya gelombang tsunami hingga ± 90 persen.
Mangrove juga memiliki kemampuan menyerap emisi gas rumah kaca (GRK) 5 kali lebih baik dari tanaman hutan lainnya. “Sehingga ekosistem mangrove perlu tetap terus dipertahankan sebagai bagian dari upaya kita untuk menangani masalah lingkungan,” kata Siti.
KLHK telah merehabilitasi kawasan mangrove seluas 31.673 Ha melalui dana APBN dan akan terus melakukan program rehabilitasi mangrove minimal 2.000 Ha per tahun. Pemerintah juga mendorong pelibatan para pihak termasuk dunia usaha dalam gerakan rehabilitasi mangrove sehingga fungsi ekosistem mangrove sebagai mitigasi bencana dapat ditingkatkan.
Selanjutnya, KLHK mendorong dan memfasilitasi pengembangan model pengelolaan mangrove produktif melalui sistem budidaya silvofishery untuk meningkatkan produksi udang, kepiting, dan biota lainnya.





Komentar tentang post