Darilaut – Panas ekstrem berdampak pada banyak negara di seluruh dunia. Di siang hari suhu sangat tinggi dan berbahaya, begitu pula di malam hari.
Untuk itu, penting menggarisbawahi tindakan peringatan dini dan rencana aksi kesehatan akibat panas.
Gelombang panas dan suhu yang memecahkan rekor ini bertepatan dengan peringatan satu tahun Seruan Aksi Sekretaris Jenderal PBB untuk Panas Ekstrem pada 25 Juli.
Untuk memperingati peringatan tersebut, Jaringan Informasi Kesehatan Panas Global (GHHIN), bersama dengan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana, meluncurkan sumber daya baru melalui inisiatif bersama ”Mendukung Tata Kelola Risiko Panas Ekstrem” untuk memperkuat koordinasi pengurangan risiko panas, membantu negara-negara dan masyarakat lebih siap menghadapi kenaikan suhu.
Pembunuh Diam-diam
Dalam siaran pers WMO, Jepang mencatat suhu tertinggi yang pernah tercatat, yaitu 41,2°C, pada 30 Juli dalam gelombang panas yang melanda Jepang dan Republik Korea.
Suhu pada malam hari juga sangat tinggi. Badan Meteorologi Jepang maupun Badan Meteorologi Korea mengeluarkan peringatan dan imbauan tentang panas ekstrem yang meluas.
Gelombang panas yang berkepanjangan dan berbahaya dengan “risiko panas ekstrem” berdampak pada jutaan orang di AS bagian Tenggara, menurut Badan Cuaca Nasional AS. Nilai indeks “rasa” panas, yang menggabungkan suhu dan kelembapan, akan mencapai 110-115°F (43-46°C), hingga awal Agustus.




