Kepala Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, A’an Johan Wahyudi, mengatakan, apa yang terjadi di permukaan tidak selalu tetap berada di permukaan. Menjelajahi laut dalam seharusnya tidak hanya berarti pergi lebih dalam, melainkan memahami koneksi antara atmosfer, lautan permukaan, kolom air, organisme laut, dan dasar laut.
A’an menekankan bahwa arus laut mengangkut panas, nutrisi, hingga organisme melintasi jarak yang luas. Namun di saat yang sama, sirkulasi tersebut juga mengangkut material buatan manusia seperti plastik.
Keterhubungan sistem ini dibuktikan melalui riset terkait biologi perikanan yang dipaparkan oleh peneliti Departemen Polisi Maritim dan Sistem Produksi, Gyeongsang National University, Myounghee Kang.
Melalui analisis akustik dan lingkungan di Samudra Hindia Barat, Kang menemukan bahwa kondisi fisik laut, khususnya lapisan termoklin (area dengan perubahan suhu dan densitas air secara drastis), sangat menentukan distribusi biomassa zooplankton.
Konsentrasi mangsa di lapisan-lapisan spesifik inilah yang pada akhirnya mendikte pergerakan dan lokasi tangkapan spesies bernilai ekonomi tinggi seperti tuna tropis.
Forum ini menyampaikan sebuah pesan krusial bagi masa depan riset kelautan global. Upaya pelestarian, manajemen perikanan, hingga mitigasi polusi laut tidak bisa lagi hanya berfokus pada apa yang terlihat di permukaan, melainkan harus mengintegrasikan observasi oseanografi, akustik, dan biologi hingga ke titik terdalam lautan.




