“Begitu kita mengatasi masalah di sumbernya, kita bisa mulai berpikir untuk langsung menangani sisa polusi plastik yang terkumpul di pusaran laut dan di dasar laut. Sampai saat itu, kita masih harus banyak belajar dan melakukan,” ujar Arianti.
Untuk mengelola limbah minyak dan plastik di Ekosistem Laut Tropis, Arianti menyarankan, pertama, melakukan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Kampanye tidak menggunakan satu pun penggunaan plastik, cara mendaur ulang plastik, cara mengelola sampah plastik, cara mengurangi sampah plastik.
Kedua, cara menangani sampah plastik. Plastik besar harus dikumpulkan di pembangkit listrik, diparut dan dimusnahkan secara fisik. Kemudian menginokulasi “mikroorganisme pemakan plastik” dan bahan pendukungnya.
Di lokasi, dapat menginokulasi mikroorganisme pemakan plastik untuk membantu proses penguraian agar lebih cepat.
Ketiga, teknologi dengan jelajahi dan temukan lebih banyak mikroba yang mampu mengurai plastik. Jelajahi dan temukan enzim pengurai plastik dari mikroba, yang dapat memecah berbagai jenis plastik.
Kemudian memanipulasi enzim, misalnya enzim PET-ase agar lebih kuat dalam mengurai plastik.
Peneliti Senior P2O LIPI Prof Dr Zainal Arifin, mengatakan, dari berbagai penelitian kelautan yang dilaksanakan oleh para peneliti, ternyata plastik masih menjadi masalah terbesar bagi pencemaran laut pada ekosistem laut dan pesisir.





Komentar tentang post