Daudi telah melihat sendiri keterbatasan dari sejumlah upaya penanganan. Upaya menanam mangrove di Magarawani gagal, ujarnya, karena kondisi tanah berpasir di sana tidak cocok.
Pohon cemara laut (Casuarina) yang ditanam sebagai gantinya pun tidak mampu bertahan menghadapi terjangan laut.
“Kami sempat mencoba menanam pohon cemara laut,” kata Daudi, namun semuanya hancur diterjang laut.
Pertanyaan besar yang dihadapi Pangani—apakah masyarakat dapat beradaptasi di tempat tinggal mereka saat ini atau pada akhirnya harus mundur.
Daudi mengatakan untuk menghentikan abrasi di sini, mungkin perlu dibangun tembok penahan ombak.
“Jika tembok dibangun, air laut tidak akan merangsek lebih jauh ke daratan,” ujarnya.
”Jika tidak, masalah ini akan terus memburuk; pada akhirnya pelabuhan ini akan hancur, dan kami terpaksa memindahkan perahu-perahu kami ke jalan raya.”
Iddi tidak lagi yakin bahwa bertahan di tempat itu adalah solusinya.
Hal terpenting adalah pemerintah memberikan ganti rugi kepada kami semua yang terdampak. “Berikan kami ganti rugi dan izinkan kami meninggalkan kawasan ini,” kata Iddi.
Bagi Steven, seorang petani kelapa, tanaman mangrove telah menyampaikan pesan serupa.
Di area tempat mangrove merambah sepanjang tepian sungai, Steven meyakini bahwa perdebatan mengenai apakah warga harus tetap tinggal di sana pada dasarnya sudah terjawab.



