Volume Anak Krakatau yang hilang diperkirakan sekitar antara 150-180 juta m3. Sementara hingga pagi ini, sisa volume tubuh Gunung Anak Krakatau diperkirakan hanya sekitar 40-70 juta m3, sehingga potensinya kecil untuk terjadinya longsoran besar.
Berkurangnya volume tubuh gunung Anak Krakatau ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunungapi yang disertai oleh laju erupsi yang tinggi dari 24-27 Desember 2018.
Proses pengamatan visual terus dilakukan untuk mendapatkan hasil perhitungan yang lebih presisi. Saat ini letusan bersifat impulsif, sesaat sesudah meletus tidak tampak lagi asap yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau.
Dengan status Level III (Siaga) saat ini, warga diminta untuk menjauhi radius 5 kilometer dari kawah atau tidak mendekati wilayah Kompleks Krakatau. “Itu maknanya disarankan tidak masuk di lingkungan Kompleks Krakatau, yang meliputi Pulau Rakata, Pulau Sertung dan Pulau Panjang,” ujarnya.
Hoax
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, isu yang beredar terkait status gunung anak krakatau yang statusnya dinaikan menjadi Siaga IV dan segera meletus kurang dari 24 jam, serta himbauan untuk menjauhi bibir pantai dalam radius 10 kilometer, Badan Geologi ESDM menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar.





Komentar tentang post