Terdapat prediksi dari sejumlah lembaga terhadap pertumbuhan ekonomi global pada 2020. Bulan April silam, IMF memprediksi perekonomian global mengalami kontraksi sebesar minus tiga persen.
Sementara itu, bulan Juni Bank Dunia membuat prediksi pertumbuhan ekonomi global berada di angka minus 5,2 persen. Prediksi OECD beberapa waktu setelahnya menyebut angka minus 6 persen.
“Kelihatan dari sini bahwa lembaga internasional pun bukan mau melebihkan, tapi memang terdapat tanda-tanda bahwa masalah ini serius,” katanya.
Staf Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Dr Hempri Suyatna, mengatakan, pada masa pandemi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari hambatan proses produksi akibat kesulitan bahan baku dan modal hingga terhambatnya distribusi dan pemasaran, yang menyebabkan penurunan pendapatan hingga 90 persen dan pemutusan hubungan kerja.
Kebijakan kenormalan baru sendiri, menurut Hempri muncul sebagai respons dari desakan ekonomi akibat pandemi.
“Kebijakan new normal di Indonesia bukan dikarenakan Indonesia sudah aman dari Covid-19, tapi lebih karena desakan ekonomi,” kata Hempri.
Menurut Hempri, kebijakan terkait UMKM yang dinilai menimbulkan paradoks. Sejumlah rekomendasi kebijakan, di antaranya pengembangan stimulus baru untuk UMKM, grand design pemulihan ekonomi lokal, serta komitmen pemerintah dan transparansi kebijakan terkait penanganan Covid-19.





Komentar tentang post