Sebaliknya, transliterasi dan penggunaan machine translation sering kali menimbulkan kesalahan yang berdampak pada penurunan kepercayaan wisatawan.
Kualitas terjemahan memiliki hubungan langsung dengan pengalaman pengunjung. Kesalahan dalam penerjemahan tidak hanya menyebabkan kebingungan, tetapi juga berpotensi menurunkan kepuasan, mengganggu navigasi (wayfinding), bahkan memengaruhi keputusan wisatawan untuk kembali berkunjung.
Dengan kata lain, signage yang buruk dapat merusak citra destinasi secara keseluruhan.
Perkembangan teknologi digital turut mengubah lanskap komunikasi wisata. Platform seperti aplikasi perjalanan, media sosial, dan sistem berbasis QR code memperluas akses informasi bagi wisatawan.
Namun, Napu mengingatkan bahwa ketergantungan pada teknologi, terutama terjemahan otomatis, harus diimbangi dengan pengawasan manusia. Tanpa kontrol kualitas, kesalahan makna dapat terjadi dan justru membahayakan, terutama dalam konteks informasi penting atau situasi darurat.
Dalam konteks Indonesia, khususnya daerah seperti Gorontalo, temuan ini membuka peluang besar untuk pengembangan pariwisata berbasis komunikasi multibahasa.
Penggunaan bahasa lokal, nasional, dan internasional secara terpadu dinilai mampu menciptakan pengalaman wisata yang lebih inklusif sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.



