Meski demikian, menurut peneliti, mekanisme penyebabnya belum dapat dipastikan, dan pemulihan ini tidak terjadi secara merata pada semua taksa.
”Temuan kami menekankan pentingnya mengidentifikasi serta melindungi kawasan yang memiliki potensi ketahanan tinggi (resilience hotspots), seperti Raja Ampat, melalui strategi konservasi yang terarah di tengah perubahan iklim,” tulis peneliti.
Selain itu, menurut peneliti, diperlukan pemantauan jangka panjang dan studi mendalam mengenai mekanisme yang mendasarinya.
Coral Triangle (Segitiga Karang) diakui sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia, mencakup wilayah Raja Ampat di Indonesia bagian timur. Meskipun kawasan ini memiliki keanekaragaman terumbu karang yang luar biasa, dalam beberapa tahun terakhir, Raja Ampat telah mengalami peningkatan kejadian pemutihan karang.
Beberapa terumbu karang di wilayah ini menunjukkan ketahanan yang tidak terduga terhadap tekanan termal, yang kemungkinan disebabkan oleh adaptasi lokal, mekanisme aklimatisasi, atau kondisi lingkungan yang mendukung. Memahami pola ketahanan ini sangat penting untuk memprediksi perkembangan terumbu karang di masa depan serta menerapkan strategi konservasi yang efektif.
Peristiwa ENSO tahun 2024 memberikan kesempatan krusial untuk mengamati respons karang terhadap tekanan termal ekstrem di salah satu sistem terumbu karang dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.



