Lahan dengan karakteristik lahan basah pesisir pun menghadapi tantangan serius termasuk akibat tekanan salinitas, cemaran sampah, dan keterbatasan teknologi pengelolaan limbah, baik anorganik maupun organik, kata Tri.
Anggota tim dari pelopor Bank Sampah Banjarnegara, Budi Trisno Aji menjelaskan bahwa teknologi pirolisis digunakan untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif.
Hasil yang diperoleh dapat berfungsi menjalankan mesin diesel bagi alat mesin pertanian dan perahu nelayan wilayah pesisir.
Vina Eka Aristya, Peneliti Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN mengatakan riset ini mengadopsi skema hilirisasi yang berbasis kemitraan antar lembaga riset, sektor swasta, dan komunitas lokal.
“Kerja bareng bertujuan meningkatkan produktivitas, ketahanan ekosistem, dan nilai ekonomi lahan pesisir,” ujarnya.
Kepala PRSIMB BRIN Nugroho Adi Sasongko mengatakan sinergi antara inovasi teknologi pirolisis dan pendekatan varietas adaptif memberikan potensi besar bagi transformasi wilayah marginal, sehingga menjadi pusat produksi hijau yang berdaya saing dan berkelanjutan mendukung Program Asta Cita Pemerintah, pada sektor strategis Ketahanan Pangan dan Energi.
Pendekatan terpadu teknologi pirolisis untuk konversi sampah plastik menjadi bahan bakar, serta adaptasi varietas tanaman tahan salinitas dan model hilirisasi berbasis partisipasi komunitas, dapat mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), yang memperkuat ketahanan ekosistem serta ekonomi lokal, kata Nugroho.




