Darilaut – Pemahaman pola cuaca ekstrem di wilayah tropis Indonesia tak bisa hanya dengan mengandalkan pemodelan standar, akan tetapi perlu penggunaan teknologi observasi mutakhir.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) BRIN, Wendy Harjupa, mengatakan, sistem presipitasi di wilayah tropis kepulauan Indonesia memiliki struktur yang sangat kompleks.
Menurut Wendy, interaksi fisik di dalam awan tersebut seringkali sulit dipahami secara akurat jika hanya mengandalkan pemodelan standar tanpa dukungan data radar yang mendetail.
“Sistem presipitasi tropis memiliki tantangan ilmiah yang signifikan karena strukturnya yang kompleks,” kata Wendy dalam workshop virtual “Understanding Tropical Precipitation Systems Through Integrated Radar and Satellite Observations” yang digelar pada Selasa (31/3).
“Tanpa data radar yang presisi, kita akan kesulitan memahami interaksi fisik di balik fenomena hujan yang terjadi di wilayah Indonesia,” ujar Wendy mengutip Brin.go.id.
Wendy menjelaskan hasil riset mengenai struktur awan dan hujan di wilayah Indonesia. Dalam risetnya, menggunakan strategi integrasi antara data observasi lapangan dan teknologi radar darat.
Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan perspektif komplementer (pelengkap) terhadap estimasi data satelit yang selama ini digunakan.




