Area TI 39.4 ± 6.66 partikel per individu, serta kelimpahan terendah tercatat di TS 32.6 ± 12.66 partikel/individu).
Hasil riset ini dilakukan oleh Syam S. Kumaji, Dewi Wahyuni K. Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, dan Femy Mahmud Sahami.
Temuan lebih lanjut mengungkapkan dominasi signifikan partikel berwarna biru, yang mencakup 83,0% (524 unit) dari total temuan, diikuti oleh varietas transparan (9,2%) dan hitam (3,0%).
Sebagian besar adalah serat biru yang kemungkinan berasal dari alat tangkap ikan dan cucian rumah tangga.
Para peneliti menilai, dominasi serat biru ini kuat kaitannya dengan aktivitas manusia, terutama penggunaan jaring dan tali nilon alat tangkap ikan, serta serat sintetis dari pakaian rumah tangga yang terlepas saat proses pencucian dan langsung masuk ke perairan.
Selain itu, ukuran mikroplastik yang paling banyak ditemukan berada pada rentang 1.000–5.000 mikrometer, menandakan bahwa partikel tersebut merupakan hasil pecahan plastik berukuran besar yang terdegradasi di laut, bukan mikroplastik primer seperti butiran kosmetik.
Keberadaan mikroplastik dalam ikan menjadi persoalan serius. Selain berisiko bagi kesehatan manusia, mikroplastik juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem laut dan ketahanan pangan komunitas pesisir yang sepenuhnya bergantung pada hasil laut.



