Nipah virus termasuk genus Henipavirus dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus.
Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, namun berpotensi menularkannya ke hewan lain maupun manusia, kata Indi.
Di Indonesia, menurut Indi, sejumlah penelitian telah memberikan bukti ilmiah keberadaan virus Nipah pada satwa liar.
Studi serologis di Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah virus pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meskipun tidak ditemukan pada babi.
“Deteksi molekuler juga telah dilakukan menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatera Utara, yang mengonfirmasi keberadaan genom Nipah virus,” ujarnya.
Penelitian lanjutan bahkan menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa, dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.
Menurut Indi, kondisi ekologis Indonesia menjadikan risiko penularan virus Nipah tidak bisa diabaikan. Keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa menjadi faktor pendorong terjadinya spillover virus.
Selain itu, keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang kurang memadai serta populasi babi yang besar di beberapa wilayah turut meningkatkan potensi penularan lintas spesies.




