Dalam diskusi, sejumlah perempuan peserta mengungkap bahwa perubahan lingkungan tidak hanya memengaruhi kesehatan dan mata pencaharian mereka, tetapi juga meningkatkan beban kerja domestik. Ketika sumber air bersih sulit diakses, perempuan harus menempuh jarak lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Begitu pula ketika tanah tak lagi subur, aktivitas berkebun yang menjadi salah satu penopang ekonomi rumah tangga menjadi semakin sulit.
Tim Riset Ekstraktivisme PT. GM melalui kegiatan ini berupaya memahami secara mendalam bagaimana masyarakat, khususnya perempuan, merespons berbagai perubahan tersebut. Pendekatan partisipatif menjadi metode kunci untuk menggali pengalaman warga sekaligus merumuskan langkah-langkah solutif yang dapat diambil bersama. Diskusi kampung ini juga diharapkan menjadi ruang aman bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman dan kebutuhan mereka terkait dampak lingkungan yang selama ini sering kali terpinggirkan dalam proses pengambilan keputusan desa.
Selain memetakan masalah, kegiatan ini menjadi platform dialog untuk mencari solusi bersama. Berbagai usulan mengemuka, mulai dari penguatan kapasitas perempuan dalam advokasi lingkungan, peningkatan literasi ekologi di tingkat rumah tangga, hingga dorongan untuk memperkuat kelembagaan perempuan dalam musyawarah desa. Masyarakat juga berharap adanya pendampingan berkelanjutan dari tim riset maupun pemangku kebijakan lainnya agar upaya menjaga lingkungan tidak hanya menjadi beban perempuan, namun menjadi gerakan kolektif seluruh warga.




