Sementara itu, nelayan laki-laki menggunakan metode memancing dengan dua alat tangkap: gara-gara pocong, yaitu alat tangkap yang dibuat menyerupai bentuk gurita, lalu gara-gara katang, alat tangkap yang dibuat menyerupai kepiting. Mereka juga memancing pada malam hari.
Tantangan yang dihadapi Nursia dan perempuan nelayan di Desa Kadoda saat berburu Kogito—sebutan gurita dalam bahasa Suku Togian (Togean)—cukup tinggi. Mereka berisiko terseret gelombang, kehabisan napas saat menyelam ke dasar laut, hingga dihantam ombak besar.
“Kadang saat menyelam saya tidak bisa memprediksi kedalamannya, kadang dasar laut sudah gelap, tapi masih ada gurita, kita masih bisa menyelam,” jelas Nursia.

Pengetahuan Ekologis Lokal
Nursia dan perempuan nelayan di Desa Kadoda memiliki pengetahuan ekologis lokal (Local Ecological Knowledge) yang kuat saat berburu gurita. Pengetahuan ini ini mencakup kemampuan mengenali lubang karang persembunyian gurita, perubahan warna pada batu, hingga jejak sisa mangsa gurita.
“Waktu menyelam itu tidak sulit, sangat gampang karena sudah terbiasa dari kecil. Kami bisa tahu kalau ada gurita biasanya dari karang atau dari kulit katangi (kepiting). Tanda ada gurita itu biasanya pada kulit kepiting, berarti ada gurita; bisa juga dari batu karang,” ujarnya.




