“Saat keledai itu mati, kami sangat menderita,” kata Elmassad. “Saya harus meminta air dari tetangga untuk memasak dan minum. Kami hanya bisa mandi seminggu sekali.”
Berada di tepi selatan Gurun Sahara, iklim Sudan bervariasi dari gurun dan semi-gurun di utara, hingga sabana gersang di seluruh bagian negara lainnya.
Perubahan iklim, sering digambarkan sebagai ‘pengganda ancaman’, menambah beban ini. Curah hujan semakin tidak menentu, sedangkan banjir dan kekeringan semakin sering terjadi.
Naiknya suhu berarti sedikit air yang jatuh menguap lebih cepat, mengurangi kelembapan tanah. Hal ini membuat pertanian lebih berbahaya bagi hampir dua pertiga penduduk pedesaan Sudan yang, seperti Elmassad, adalah petani kecil atau penggembala yang mengandalkan hujan.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa suhu di Sudan akan terus meningkat, dan jika tren curah hujan saat ini berlanjut, Gurun Sahara akan terus bergerak ke selatan dengan kecepatan 1,5 km per tahun, menelan lahan pertanian dan penggembalaan.
Ini adalah pandangan suram bagi Elmassad, yang telah menjadi satu-satunya pencari nafkah sejak suaminya meninggal enam tahun lalu.
Seperti banyak petani di Sudan, Elmassad kekurangan pendapatan dan keahlian untuk beradaptasi dengan guncangan iklim.
Di ladangnya, hujan yang datang terlambat dan sporadis membuat tanamannya tidak memiliki cukup waktu untuk matang, membuat mereka lemah dan rentan terhadap hama.





Komentar tentang post