Pemodelan ini merupakan pengembangan dari simulasi sebelumnya yang dilakukan untuk memahami pola pergerakan objek yang terbawa arus laut.
Temuan jenazah seorang kru di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Bengkulu Utara, pada 12 September 2026 lalu menjadi data penting untuk mengevaluasi hasil simulasi.
Sebelumnya, terdapat dua versi koordinat lokasi hilang kontak yang beredar di media dengan perbedaan sekitar 30 kilometer.
Titik koordinat tersebut digunakan sebagai dasar untuk memberikan bobot berbeda terhadap skenario dalam pemodelan.
Menurut Prof. Widodo, skenario yang tidak bisa menjelaskan mengapa jenazah sampai di Enggano pada hari kelima kami beri bobot nol. Sedangkan yang cocok diberi bobot sesuai tingkat kecocokannya. Peta yang dikeluarkan sekarang adalah peta yang sudah dikondisikan pada fakta lapangan tersebut.
Pemodelan menghitung 16.000 lintasan partikel dari delapan kombinasi titik keberangkatan, waktu keberangkatan, dan mekanisme tubuh terbawa arus. Setelah dilakukan pembobotan berdasarkan hasil evaluasi, sebaran probabilitas terbagi menjadi tiga kelompok utama.
“Sekitar 45% probabilitas berada di Pulau Enggano, terutama wilayah pantai timur hingga selatan di sekitar Kahyapu, dengan sebagian besar partikel diperkirakan terdampar pada 12–14 September,” kata Prof. Widodo.



