Satwa ini biasa tinggal di dalam batang pohon yang berongga atau rimbun.
Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, Bustang, mengatakan terekamnya tarsius melalui kamera jebak ini bisa menjadi jendela untuk mengintip perilaku alami satwa tersebut.
Hingga saat ini belum ada penelitian ekologi terhadap spesies ini, sehingga perilaku dan preferensi habitat Tarsius niemitzi masih menjadi misteri.
Diperkirakan tarsius ini tersebar di seluruh Kepulauan Togean kecuali Pulau Una-Una. Namun, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan wilayah distribusi jenis tarsius ini.
Menurut Bustang masih banyak kekayaan hayati di Kepulauan Togean yang belum tersingkap. Sehingga sangat diperlukan penelitian-penelitian di wilayah Taman Nasional Kepulauan Togean.
Selain itu, kata Bustang, kegiatan sosialisasi terhadap masyarakat sekitar kawasan Togean diperlukan untuk meningkatkan wawasan tentang hewan primata tersebut. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat punya kesadaran yang tinggi untuk menjaga dan melestarikan primata yang dilindungi dan terancam punah tersebut.
Kamera Jebak
Kamera jebak yang merekam tarsius ini adalah perangkat yang dipasang oleh Agus Jati, mahasiswa program doktoral dari Universitas Maine, Amerika Serikat.
Agus sedang melakukan penelitian disertasi mengenai Babirusa Togean (Babirusa togeanensis).





Komentar tentang post