Meskipun target utamanya adalah babirusa, kamera jebak tidak pandang bulu dalam mengambil gambar, sehingga satwa apapun yang lewat didepannya akan terekam, termasuk tarsius.
Saat ini, Agus, dibantu oleh staf Balai Taman Nasional Kepulauan Togean dan masyarakat mitra Polhut, masih melanjutkan penelitiannya di Kepulauan Togean untuk mengkaji babirusa, tarsius, dan satwa-satwa lain yang mendiami wilayah tersebut.
Studi Tarsius Togean
Keberadaan tarsius di Kepulauan Togean sendiri telah dilaporkan oleh Nietsch dan Niemitz sejak tahun 1993.
Ketika itu, penduduk Kepulauan Togean familiar dengan satwa yang dalam bahasa lokal disebut tangkasi ini.
Melalui studi genetika, pada tahun 2019 primata mungil ini tercatat sebagai jenis tarsius spesies tersendiri.
Tarsius Niemitz (Tarsius niemitzi) memiliki kulit berpigmen gelap, terutama ekor, dan bulu yang relatif gelap dengan bulu wajah abu-abu gelap, terutama pada spesies dewasa.
Berat tubuhnya untuk betina: 104-110 g, jantan: 125-138 g. Panjang ekor betina: 245-261 mm dan jantan: 246-258 mm.
Spesies ini dideskripsikan oleh Dr Myron Shekelle dari Departemen Antropologi di Western Washington University dan rekan-rekannya dari Amerika Serikat, Australia, dan Indonesia.
Penamaan spesies ini untuk menghormati Dr. Carsten Niemitz, yang dianggap sebagai bapak biologi lapangan tarsius.





Komentar tentang post