Menurut Fitri, hiu paus memiliki karakteristik biologis yang rentan terhadap ancaman, seperti pertumbuhan lambat, fekunditas rendah, dan umur kematangan panjang.
Indonesia menjadi habitat penting spesies hiu paus, dengan titik agregasi remaja di Teluk Cenderawasih, Kaimana, Teluk Saleh, Gorontalo, Probolinggo, dan Kepulauan Derawan. “Posisi strategis ini memberi tanggung jawab global bagi Indonesia dalam menjaga populasi hiu paus Indo-Pasifik,” ujarnya.
Hasil monitoring juga menyoroti peningkatan kejadian terdampar di beberapa wilayah. Selama periode 2021–2025, tercatat rata-rata 20 individu hiu paus terdampar.
Hasil penelitian Konservasi Indonesia, sebanyak 71% hiu paus yang ditemukan terdampar dalam kondisi hidup berhasil dilepasliarkan kembali ke laut.
Konservasi hiu paus sejalan dengan komitmen Indonesia dalam kerangka CTI-CFF, di mana perlindungan spesies migrasi besar dipandang krusial bagi kesehatan ekosistem laut dan penguatan ekonomi biru. Melalui pendekatan Theory of Change, forum ini mengidentifikasi isu strategis, akar permasalahan, serta prioritas aksi untuk periode RAN berikutnya.




