“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” ujar Dini, seperti dikutip dari Brin.go.id.
Proses yang berlangsung sejak Anak Krakatau muncul dari laut, tumbuh hingga ratusan meter, mengalami keruntuhan besar pada 2018, kemudian kembali membangun kerucutnya hingga 2026 menjadi bagian penting untuk memahami evolusi gunung api tersebut.
Karakter Basaltik
Hasil penelitian menunjukkan magma Gunung Anak Krakatau memiliki karakter lebih basaltik, lebih panas, dan tersimpan lebih dalam dibandingkan periode Old dan Young Krakatau.
Temuan tersebut memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan sistem magmatik Krakatau.
Pengetahuan tentang hubungan antara komposisi magma, kedalaman reservoir, temperatur, kondisi oksidasi, dan aktivitas erupsi menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman risiko serta upaya mitigasi bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
Menurut Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Adrin Tohari, adanya perubahan komposisi dan kedalaman penyimpanan magma dalam evolusi sistem Krakatau.
Dalam Geohazard Webinar 2026 #05, Senin (14/9), Adrin mengatakan, pengawasan dan pemahaman ilmiah yang komprehensif mengenai Krakatau sangat penting bagi keselamatan masyarakat pesisir dan kelancaran aktivitas pelayaran di kawasan Selat Sunda.




