Mulai dari hujan lebat disertai kilat dan petir, siklon tropis, gelombang tinggi, hingga hujan es atau kekeringan panjang.
Situasi ekstrem ini, kata Dwikorita, ketika bertemu dengan kerentanan lingkungan, tidak jarang mengakibatkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, angin puting beliung, dan tanah longsor serta kebakaran lahan.
Perubahan iklim memporak-porandakan keteraturan iklim dan cuaca di Indonesia, dan berdampak serius pada keberlanjutan sektor pertanian dan perikanan, yang dapat berujung pada ancaman terhadap ketahanan pangan Indonesia.
Dwikorita mengatakan, sejak tahun 2011 BMKG telah melakukan secara rutin dan berkelanjutan Sekolah Lapang Iklim untuk memberikan pemahaman dan kemampuan bagi petani dan nelayan dalam membaca cuaca dan iklim, serta beradaptasi secara tepat untuk meningkatkan produksi panen dan tangkapan ikannya.
“Lebih dari 22.600 petani dan nelayan dari berbagai penjuru tanah air telah dilatih dan diberdayakan. Namun tentunya itu belum cukup. Masih perlu lebih digencarkan secara lebih masif lagi program Sekolah Lapang ini,” ujar Dwikorita dalam Puncak Peringatan Hari Meteorologi Dunia Ke 72 “Expose Nasional Monitoring & Adaptasi Perubahan Iklim 2022“, Rabu (30/3).
“Untuk itu kami terus mengundang dan mengajak berbagai pihak baik dari Pemerintah, Kalangan Swasta, Akademisi dan Masyarakat/Media, untuk melompatkan kolaborasi, demi mewujudkan 1 juta Petani dan 1 juta nelayan per tahun makin produktif, handal dan berketahanan iklim serta tangguh bencana.”





Komentar tentang post