Ketiga, ada kemungkinan satwa tersesat atau mengalami disorientasi spasial atau kehilangan orientasi karena terjebak di lingkungan yang tidak dikenalnya.
“Bagi macan tutul, hutan dengan pepohonan adalah referensi visualnya,” ujar Hendra.
“Begitu ia masuk ke bangunan beton tanpa vegetasi, ia kehilangan arah dan bisa panik. Inilah yang terjadi ketika macan masuk hotel atau kantor.”
Akar Masalah
Fragmentasi hutan, menurut Hendra, sebagai akar permasalahan meningkatnya konflik manusia-satwa liar. Fragmentasi terjadi ketika hutan besar terpecah-pecah menjadi potongan kecil yang terisolasi oleh jalan, ladang, atau permukiman.
“Fragmentasi lebih berbahaya daripada sekadar pengurangan luas hutan,” ujarnya.
Tidak hanya mengurangi luas, tapi juga memutus konektivitas antarhabitat, menghilangkan area inti, dan memperpanjang tepian hutan (edge) yang memungkinkan satwaliar menjadi semakin sering berinteraksi dengan manusia.
Dampaknya serius. Predator puncak seperti harimau sumatra dan macan tutul jawa membutuhkan wilayah jelajah luas untuk bertahan hidup. Saat ruangnya terpotong, mereka berebut teritori.
“Yang kalah biasanya jantan muda atau tua, terpaksa keluar mencari wilayah baru, dan sering melewati kebun atau permukiman,” kata Hendra.
Hendra mencatat telah terjadi sedikitnya 137 insiden konflik manusia-harimau antara tahun 2005 hingga 2023 di 14 kabupaten/ kota Sumatra Barat.




