Prof. Fitryane kemudian menguraikan faktor penyebab degradasi, seperti alih fungsi hutan. Perubahan tutupan hutan menjadi ladang jagung atau kebun kelapa sawit menjadi penyebab utama di Pohuwato, Boalemo, dan Bone Bolango.
Kemudian, pertanian di lereng curam. Pembukaan lahan pertanian di kemiringan lereng tinggi atau topografi curam, telah mempercepat aliran permukaan dan meningkatkan erosi.
Minimnya praktik konservasi karena masih rendahnya pemanfaatan teknologi konservasi tanah seperti terasering, guludan, dan mulsa.

Selanjutnya, tekanan sosial ekonomi. Petani kecil membuka lahan baru di kawasan yang secara ekologis rapuh karena desakan kebutuhan pangan dan lahan produksi, kata Prof. Fitryane.
Prof. Fitryane menjelaskan daerah aliran sungai (DAS), suatu ekosistem yang berfungsi mengatur sistem tata air di dalamnya. DAS merupakan penampung, menyimpan dan mengalirkan air di dalam sistemnya dan berakhirnya mengalirkan dalam suatu outlet menuju ke laut.
Mengacu pada data dari Kementerian PUPR, wilayah Provinsi Gorontalo terdiri atas 108 daerah aliran sungai yang terbagi ke dalam tiga wilayah sungai besar, yaitu Wilayah Sungai Paguyaman (20 DAS), Wilayah Sungai Randangan (14 DAS), dan Wilayah Sungai Limboto-Bulango-Bone (74 DAS), yang semuanya bermuara ke Teluk Tomini.




