Profesor Riset BRIN Bertambah, 2 Tentang Ikan di Air Tawar

Ikan air tawar. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bertambah empat, dua di antara yang dikukuhkan dengan karya-karya penelitian tentang ikan air tawar.

Majelis Profesor Riset mengukuhkan empat peneliti di lingkungan BRIN pada Rabu (28/9) di Jakarta. Empat peneliti tersebut adalah Anang Hari Kristanto dari Organisasi Riset (OR) Hayati dan Lingkungan, Angela Mariana Lusiastuti dari OR Kesehatan, dan Dina Bisara dari OR Kesehatan, serta Erni Budiwanti dari OR Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora.

Anang Hari Kristanto, pakar Bidang Pemuliaan Genetika, menyampaikan orasi Bidang Pemuliaan Genetika khususnya tentang domestikasi ikan air tawar asli Indonesia. Selama ini, beberapa proses domestikasi dilakukan dalam upaya menghasilkan jenis ikan budidaya yang baik.

Tantangan dalam domestikasi ikan yang dihadapi yakni menciptakan kit yang dapat mendeteksi secara cepat induk ikan yang siap dipijahkan sehingga dapat lebih efisien dalam pemilihan induk matang gonad dan penggunaan hormon pemijahan.

Angela Mariana Lusiastuti, pakar Bidang Kesehatan Ikan dan Lingkungan, orasinya tentang inovasi berupa vaksin yang dikembangkan guna untuk budidaya ikan air tawar berkelanjutan.

Aplikasi vaksinasi pada budidaya ikan air tawar dapat meningkatkan sintasan ikan lebih dari 10%. Tentu saja dalam hal ini tantangan yang masih harus dilalui ke depannya adalah meminimalkan berkembangnya penyakit dan mengurangi penggunaan antibiotika yang membahayakan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan.

Dina Bisara, pakar Bidang Kesehatan Masyarakat, menyampaikan hasil orasi berupa foto toraks dan tes cepat molekuler (TCM) yang merupakan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan penemuan kasus TBC.

Kombinasi skrining gejala dan foto toraks dapat menambah penemuan kasus TBC dan penggunaan TCM untuk diagnosis TBC akan berdampak pada peningkatan cakupan kasus yang ditemukan dan diobati sehingga mengurangi penularan yang akhirnya kasus TBC dapat ditekan.

Sementara Erni Budiwanti, pakar Bidang Antropologi Agama, menyampaikan orasi bagaimana mengelola keberagaman agama dalam ruang publik. Isu utama dalam negara yang pluralistik, seperti Indonesia, adalah keragaman (diversity) dan kesatuan (unity).

Konflik yang mengatasnamakan agama sebagai bagian dinamika keberagaman. Oleh karena itu ruang publik dalam masyarakat idealnya merepresentasikan koeksistensi damai, disamping itu pemerintah dalam peran kebijakan pada Negara juga diharapkan tidak mengabaikan aspirasi dan kepentingan minoritas agama.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko mengatakan, gelar Profesor Riset adalah gelar tertinggi yang dicapai oleh seseorang dalam karirnya sebagai periset.

“Meskipun gelar Profesor Riset bukan gelar secara kepegawaian kita sebagai ASN, namun yang lebih daripada itu, gelar ini memberikan beban tambahan yang tidak ringan kepada yang telah dikukuhkan,” katanya.

“Profesor Riset juga memiliki tanggungjawab yang sangat besar, tidak hanya untuk dirinya sendiri Namun kita harapkan, Profesor Riset menjadi penghela terdepan untuk kelompok-kelompok risetnya, karena itulah tanggungjawab menjadi Profesor Riset.”

Menurut Handoko, dengan dikukuhkannya empat Profesor Riset yang baru merupakan kebanggaan bagi kita semua, sebagai bukti bahwa BRIN pada khususnya memiliki kesinambungan kaderisasi peneliti untuk menghasilkan karya-karya penelitian berkualitas internasional.

Exit mobile version