Hasil penelitian ini menyimpulkan secara spasial, frekuensi kejadian spesifik dekat dengan garis pantai dan mendukung kemunculan habitat, sepenuhnya terkait dengan profil dasar laut yang unik sebagai karakteristik batimetri perairan Botubarani.

Menurut peneliti, celah dalam yang curam mendorong keberadaan hiu paus dekat garis pantai, dengan fitur dasar laut yang unik, terumbu yang terlindungi, dan habitat karang/alga.
Model ini mungkin bervariasi di beberapa area perairan di Indonesia dan di seluruh dunia.
Penelitian ini menunjukkan konsentrasi klorofil a (Chl a) sebagai pertimbangan utama yang mempengaruhi keberadaan hiu paus di Zona Pengembangan Ekowisata Botubarani.
Riset ini juga mengidentifikasi pola kemunculan hiu paus di dalam kawasan pengembangan ekowisata. Begitu pula hubungan parameter oseanografi dan karakteristik batimetri geomorfik di Botubarani.
Data oseanografi dianalisis untuk memahami habitat hiu paus lokal dari perspektif batimetri geomorfik 3D, dan untuk menentukan hubungan antara suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi klorofil a (Chl a) permukaan dengan kemunculan hiu paus.
Celah yang lebih curam dan dalam sangat berkaitan dengan keberadaan hiu paus di dekat garis pantai, tempat ditemukannya fitur dasar laut yang unik dan habitat terumbu karang/alga yang terlindung.




