Oleh: Dr. Funco Tanipu, S.T., M.A, Founder The Gorontalo Institute
Dalam politik, tidak ada puncak yang abadi. Setiap daerah mengalami siklus: melahirkan elite, menikmati pengaruh, lalu memasuki fase regenerasi. Gorontalo tampaknya sedang berada pada fase terakhir itu.
Selama hampir satu dekade, Gorontalo menikmati sesuatu yang jarang dimiliki provinsi dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa. Di tengah keterbatasan demografi, daerah ini mampu menempatkan putra-putranya di pusat-pusat kekuasaan nasional. Pada periode 2019–2024, representasi politik Gorontalo mencapai titik yang layak disebut sebagai periode emas.
Saat itu, Rachmat Gobel menjadi Wakil Ketua DPR RI, Fadel Muhammad menjabat Wakil Ketua MPR RI, Zainudin Amali menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga, Suharso Monoarfa memimpin Kementerian PPN/Bappenas, Sandiaga Uno menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Roem Kono dipercaya sebagai Duta Besar RI untuk Bosnia dan Herzegovina, sementara Danny Pomanto memimpin Kota Makassar sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia.
Konstelasi tersebut bukan sekadar daftar jabatan. Ia mencerminkan hadirnya elite Gorontalo pada hampir seluruh simpul strategis kekuasaan negara: legislatif, eksekutif, diplomasi, hingga pemerintahan daerah. Sulit menemukan provinsi dengan ukuran penduduk yang relatif kecil tetapi memiliki penyebaran elite nasional seluas itu.




